Five Freedoms yang Diabaikan:

Kekejaman oleh Santika

Terungkap arrow down

This photo is representative of the standard industrial farming practices permitted in the company’s supply chain.
Photo: Stefano Belacchi / Animal Welfare Observatory / We Animals
white vector black vector
THE FIVE FREEDOMS
Kebebasan dari
kelaparan dan kehausan01
02rasa takut dan tertekan
03rasa sakit, cedera, dan penyakit

Ini termasuk dalam Lima Kebebasan yang mendefinisikan perlakuan manusiawi terhadap hewan ternak — standar yang didukung oleh lebih dari 90% masyarakat.

Prinsip-prinsip kebebasan ini mewakili apa yang diharapkan konsumen dari perusahaan-perusahaan makanan dan perhotelan, dan saat banyak jaringan hotel telah menempatkan kebijakan untuk menerapkan prinsip lima kebebasan tersebut dalam rantai pasokannya, Santika Indonesia Hotels and Resorts terus mengabaikan standar etika ini dengan cara menyajikan makanan yang bersumber dari peternakan di mana hewan mengalami penderitaan yang parah.

Dari ayam-ayam yang terjebak di dalam kandang-kandang kecil selama hidupnya, tanpa bisa mengembangkan sayapnya atau melakukan perilaku alaminya, hingga mengalami pelemahan tulang dan sakit kronis dikarenakan kurungan yang ekstrim, Santika mengijinkan perilaku brutal untuk memperoleh beberapa rupiah per makanan yang disajikan.

Dampak terhadap manusia
sama seriusnya
dan mengkhawatirkannya

Perilaku-perilaku tidak manusiawi ini dapat berakibat secara langung pada resiko Kesehatan serius untuk konsumen.

Produksi telur kandang berhubungan dengan prevalensi kontaminasi Salmonella yang lebih tinggi, karena kondisi kandang yang sempit dan tidak bersih menciptakan tempat berkembang biaknya bakteri. Stres dan sistem kekebalan tubuh yang lemah pada ayam yang dikurung semakin meningkatkan risiko penularan penyakit.

Selain itu, peternakan telur dalam kandang sering kali mengandalkan penggunaan antibiotik berlebihan untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh lingkungan yang tidak higienis, sehingga berkontribusi terhadap munculnya bakteri yang tahan terhadap antibiotik yang dapat menyebar ke manusia.

Dengan membiarkan penggunaan telur kandang dalam rantai pasokannya, Santika tidak hanya menambah parah penderitaan hewan tetapi juga menimbulkan risiko kesehatan yang tidak perlu bagi konsumen.

Sudah saatnya Santika menempatkan kebijakan-kebijakan yang mengakhiri praktik-praktik yang kejam dan membahayakan ini dan menjamin Lima Kebebasan untuk hewan.

Mereka adalah para pengambil keputusan
yang membiarkan kekejaman ini terus berlangsung
L Sudarsana
GM Corporate Business Development & Sales Marketing
Johanes Widjaja
Direktur Utama
Mohhamad Amrullah
GM Corporate Human Resources & General Affairs
white vector black vector
TelurSantika:Krisis Kandang
White laying hens live in rows of crowded battery cages at an intensive egg production farm. Each cage houses several hens in tight spaces, laying eggs onto slanted wire surfaces for collection. Workers add food manually to feeding troughs, and water is provided only at scheduled intervals.
This photo is representative of the standard industrial farming practices permitted in the company’s supply chain. Photo: Hanoi, Dong Quang, Vietnam, 2024. Human Cruelties / We Animals

Di balik telur-telur yang disajikan oleh Santika, terdapat kenyataan mengerikan tentang penderitaan.

Ayam-ayam dijejalkan ke dalam kandang-kandang baterai yang kecil dan gersang, yang sangat sempit sehingga ungga-unggas itu tidak dapat mengembangkan sayap, berputar, atau menunjukkan perilaku alami mereka. Hewan-hewan yang dapat merasa ini direduksi menjadi mesin petelur belaka, menanggung penderitaan seumur hidup dengan berdiri di atas lantai kawat yang dapat melukai kaki mereka dan membuat tubuh mereka memar serta kehilangan bulu. Karena berdesakan begitu rapat, ayam-ayam sering kali saling melukai karena stres dan frustrasi.

Bahkan kebutuhan hidup dasar pun tidak terpenuhi. Tanpa akses ke tempat mandi debu, tempat bertengger, atau udara segar, hewan-hewan yang cerdas dan ingin tahu ini terperangkap dalam dunia tanpa stimulasi dan kenyamanan.

Laying hens live inside a cramped battery cage on a Slovakian intensive egg production farm. Hens inside such cage systems lose their feathers due to their intensive use and crowded conditions. This farm keeps tens of thousands of hens in such a system, which consists of multiple rows of cages stacked 3 tiers high. When the hens can no longer produce enough eggs, they are taken to slaughter and replaced with a new young flock.
This photo is representative of the standard industrial farming practices permitted in the company’s supply chain. Photo: Velky Lapas, Slovakia, 2022. Andrew Skowron / We Animals
A dead hen pulled from her cage lies on the floor of an industrial egg production farm. Above her, sixty-week-old hens live crowded inside stacked rows of battery cages at an industrial farm, where they are kept for two years to lay eggs. Hens die prematurely from illness or injury from other birds while living in close confinement.
This photo is representative of the standard industrial farming practices permitted in the company’s supply chain. Photo: Sub-Saharan Africa, 2022. Jo-Anne McArthur / Sibanye Trust / We Animals

Stres dan kepadatan yang berlebihan dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius, termasuk tulang yang mudah patah dan turun peranakan akibat produksi telur yang tanpa henti. Banyak ayam betina mati di kandangnya, bangkai mereka yang membusuk tertinggal di antara yang hidup sampai pekerja mengeluarkan mereka.
Dalam sistem ini, hampir setiap dari prinsip Lima Kebebasan dilanggar: ayam terbebas dari ketidaknyamanan, rasa sakit, cedera, dan penyakit, kebebasan untuk mengekspresikan perilaku normal, dan kebebasan dari rasa takut dan tertekan.

Namun, Santika mengizinkan para pemasoknya untuk terus menggunakan sistem yang biadab ini.

Third-row-image-2-cagefree-opt
This photo is representative of the standard industrial farming practices permitted in the company’s supply chain.
black vector
A laying hen in a battery cage on an industrial egg production farm peers from behind an egg. Their eggs are laid on a wire grid and transported away by conveyor to another building.
This photo is representative of the standard industrial farming practices permitted in the company’s supply chain. Photo: Poland, 2022. Andrew Skowron / We Animals
Implikasi kesehatan bagi konsumen
Kekejaman ini bukan hanya masalah kesejahteraan hewan—melainkan masalah kesehatan masyarakat umum. Telur dari sistem kandang sempit lebih mungkin terkontaminasi bakteri Salmonella, yang menimbulkan ancaman serius terhadap kesehatan manusia. Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa sistem bebas kandang secara signifikan mengurangi risiko kontaminasi tersebut, namun Santika terus memprioritaskan keuntungan jangka pendek daripada keselamatan dan etika.
Santika memiliki kekuatan untuk mengakhiri penderitaan ini dengan berkomitmen pada kebijakan telur 100% bebas kandang di seluruh rantai pasokannya. Sudah saatnya bagi Santika untuk bertindak secara bertanggung jawab dan memastikan bahwa tidak ada ayam dalam rantai pasokannya yang harus menanggung kengerian hidup di dalam kandang.
black vector
Santika: menghormati
Lima Kebebasan
black vector

Santika memiliki kekuatan dan tanggung jawab untuk menghentikan izin atas kekejaman ekstrem ini dalam rantai pasokannya. Publik mengharapkan yang lebih baik, dan hewan berhak hidup bebas dari penderitaan yang kejam dan tidak perlu ini.

Saatnya bagi Santika untuk melakukan apa yang telah dilakukan banyak jaringan hotel terkemuka lainnya di Indonesia dan menetapkan kebijakan yang menjamin Lima Kebebasan bagi hewan dalam rantai pasokannya.

Mari pastikan
Lima Kebebasan
bagi hewan